POS KUPANG.COM, KUPANG - NTT merupakan provinsi yang berbatasan darat dengan negara Republik Demokratik Timor Leste dan berbatasan laut dengan negara Australia. Kota Kupang sebagai Ibukota Provinsi NTT menjadi salah satu pintu gerbang atau terminal transit dalam sistem distribusi barang dan jasa dari dan menuju Timor Leste. Bahkan ke depan, jika dibuka kembali jalur penerbangan Kupang-Drawin Australia maka Kota Kupang akan menjadi pintu gerbang udara menuju Australia.

Dalam kedudukan ini, wujud fisik bangunan dan lingkungan Kota Kupang perlu diatur dan dikendalikan agar dapat menampilkan diri secara bermartabat sebagai wajah depan Negara Kesatuan RI. Tatanan fisik bangunan dan lingkungan di Kota Kupang harus dikelola sedemikian rupa sehingga layak dan nyaman dihuni, elok dilihat dan dikenang dan produktif secara berkelanjutan.
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Kota Kupang, Ibukota Provinsi NTT ditetapkan sebagai salah satu kota Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Sebagai kota PKN, Kupang memiliki kedudukan strategis dalam konstelasi kepentingan ekonomi nasional maupun regional Provinsi NTT.

Sementara dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) NTT, Kota Kupang ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Provinsi (KSP) karena pertimbangan kepentingan ekonomi, yakni sebagai kawasan cepat tumbuh. Kawasan strategis cepat tumbuh ditandai pesatnya pertumbuhan penduduk dan transformasi sosial ekonomi masyarakat diikuti dinamika pembangunan fisik bangunan dan lingkungan yang pesat dan bersifat organik.

Pertumbuhan penduduk dan transformasi sosial ekonomi masyarakat yang pesat ini bernilai positif bagi proses menjadi kota (Urbanisasi). Persoalannya adalah adanya perbedaan kemampuan, kepentingan, dan sifat perkembangan ekonomi yang mengakibatkan interaksi antara berbagai sektor di atas lahan Kota Kupang tidak selalu berlangsung secara seimbang dan saling menguntungkan. Bahkan seringkali menimbulkan benturan kepentingan. Beberapa konflik kepentingan tersebut, antara lain kepentingan pusat kota versus pinggir kota, ekonomi versus ekologi, publik versus privat dan sektor formal versus informal.

Salah satu perbedaan mendasar dari struktur fisik Kota Kupang pada tahun 1980-an dengan kondisi saat ini terletak pada perubahan sistem transportasi kota. Jaringan jalan yang semakin kompleks, berpotongan dan bersilangan telah merubah lansekap padang karang kota ini menjadi fragmen-fragmen permukiman baru.

Dengan kemajuan sistem transportasi dan semakin luasnya wilayah hunian maka struktur kota praktis tidak lagi dibentuk oleh hanya satu maha pusat di kawasan LLBK dan Kampung Solor. Secara spontan telah tumbuh sub-sub sentra perdagangan baru. Akibatnya kota lama cenderung semakin surut perannya. Bahkan cenderung mati dan secara perlahan menjelma menjadi sebuah museum. Sementara proses pembentukan sub pusat baru di pinggiran kota yang tumbuh secara spontan mengakibatkan kawasan pinggiran tumbuh tanpa arah dan cenderung semrawut.

Pertarungan kepentingan ekonomi versus ekologi dapat dilihat dalam kasus konversi lahan kawasan lindung menjadi budidaya. Kasus paling aktual adalah alih fungsi ruang terbuka hijau sempadan pantai di Kota Kupang menjadi perdagangan atau penunjang wisata.